Main Article Content

Rini Sulistiawati
Dini Fitri Damayanti

Abstract

Latar Belakang : Stunting atau anak balita pendek merupakan salah satu masalah gizi yang menjadi fokus perhatian dunia, termasuk Indonesia. Prevalensi balita stunting di Kalimantan Barat berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar tahun 2018, yaitu yang mengalami pendek sebesar 21,9% dan sangat pendek sebesar 11,4%. Berdasarkan angka tersebut, prevalensi balita pendek di Kalimantan Barat menjadi masalah kesehatan masyarakat, yaitu  menurut WHO prevalensi lebih dari 20%. Stunting dapat berakibat fatal bagi kemampuan belajar di sekolah, dan bagi produktivitas mereka di masa dewasa, serta  memiliki daya tahan tubuh yang rendah. Pencegahan stunting dilakukan dengan pemberian gizi yang baik sejak janin dalam kandungan, pemberian ASI eksklusif sampai usia 6 bulan, dan pemberian MP-ASI yang tepat mulai usia 6 bulan hingga 2 tahun. Upaya peningkatan status gizi masyarakat perlu dibarengi dengan peningkatan pengetahuan khususnya ibu yang memiliki bayi risiko stunting. Salah satu upaya untuk meningkatkan pengetahuan ibu, yaitu pendidikan kesehatan tentang  Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA). Telegram merupakan salah satu media komunikasi yang dapat digunakan dalam pendidikan kesehatan


Tujuan: menganalisis peningkatan pengetahuan ibu dengan anak risiko stunting tentang pemberian makan bayi dan anak (PMBA) menggunakan media Telegram di RSUD Dr. Soedarso Pontianak tahun 2019.


Metode penelitian: merupakan eksperimen semu (Quasy Experiment) rancangan Non Equivalent Group dengan pre-post test with control group design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang meimiliki bayi dengan risiko stunting di RSUD Dr. Soedarso Pontianak dengan jumlah sampel kelompok perlakuan (diberikan informasi melalui media aplikasi Telegram) dan kelompok kontrol (diberikan informasi melalui media  booklet), masing-masing sebanyak 15 orang. Teknik non probalility sampling secara consecutive sampling. Uji yang digunakan berupa uji t berpasangan dan uji t tidak berpasangan dengan  tingkat kepercayaan 95%.


Hasil: Terdapat perbedaan rerata skor pengetahuan yang bermakna tentang PMBA pada ibu dengan anak risiko stunting sebelum dan sesudah  pendidikan kesehatan melalui media Telegram maupun melalui media booklet. Terdapat perbedaan rerata  skor pengetahuan yang bermakna tentang PMBA antara  ibu dengan anak risiko stunting yang diberikan pendidikan kesehatan melalui media Telegram dengan ibu dengan anak risiko stunting yang diberikan pendidikan kesehatan melalui media booklet

Article Details

How to Cite
Sulistiawati, R., & Damayanti, D. F. (2020). Telegram sebagai Media Pendidikan Kesehatan Untuk Peningkatan Pengetahuan Ibu tentang Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA) . Jakiyah: Jurnal Ilmiah Umum Dan Kesehatan Aisyiyah, 5(2), 56-66. https://doi.org/10.35721/jakiyah.v5i2.40
References
1. WHO. 2014. WHA Global Nutrition Targets 2025: Stunting Policy Brief. globaltargets_stunting_policybrief.pdf (who.int)
2. Direktorat Bina Gizi dan KIA Kemenkes RI. 2014. Modul Pelatihan Konseling Pemberian Makan Bayi dan Anak. Jakarta.
3. Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal. 2017. Buku Saku Desa dalam Penanganan Stunting. Jakarta.
4. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. 2018. Laporan Nasional Riskesdas 2018. Kementerian Kesehatan RI
5. Trihono, Atmarita, Tjandrarini D.P., et al. Pendek (Stunting) di Indonesia, Masalah dan Solusinya. Balitbangkes, Jakarta:2015. Pendek (Stunting) di Indonesia.pdf (kemkes.go.id)
6. WHO. 2012. Health education: theoretical concepts, effective strategies and core competencies. EMRPUB_2012_EN_1362.pdf (who.int)
7. Notoatmodjo S. 2010. Pendidikan dan perilaku kesehatan. Jakarta. Rineka Cipta.
8. Sutikno T, Handayani L, Stiawan D, Riyadi MA, Subroto IMI. 2016. WhatsApp, Viber and Telegram: which is the best for instant messaging? Internatonal Journal of Electrical and Computer Engineering. June 2016:6(3):909-914.
9. Denysiuk NR, Plavutska IR, Fedak SA. 2018. Telegram messages application as a tool of teaching English. https//www.elartu.tntu.edu.ua.bitstr
eam>lib>V.S…
10. Yinka, A.R. Queendarline, NN. 2018. Telegram as a social media tool for teaching and learning in tertiary institutions. Int. J. of Multidisciplinary Research and Dev.2018;5(7): 95-98.
11. Bharti R, Raj TS. 2019. Awareness on ANC and PNC Services among Women of Urban Slum in Delhi. International Journal of Health Sciences & Research.2019:Vol.9; Issue: 6:223-233.
12. Emilia O. 2018. Promosi Kesehatan dalam Lingkup Kesehatan Reproduksi. Yogyakarta: GMU Press.
13. Guillot, C. Keenan, G. 2016. The evaluation of an information booklet in the use of effective patient communication in the setting of thoracic anesthesia. Patient Experience Journal:3(2)10:57-66
14. Iriyani, K. Chairunnisa, E. Kamba, I. 2015. Effectiveness of booklet media on mothers’ knowledge and attitude regarding exclusive breastfeeding and breastfeeding practice at Manggar Baru Health Center Balikpapan. International Journal of Sciences: Basic and Applied Research (IJSBAR):21(2):11-15
15. Nova SP. 2018. Efektivitas komunikasi aplikasi telegram sebagai media informasi pegawai PT. Pos Indonesia (Persero) Kota Pekan Baru. JOM FISIP;5(1):1-11.
16. Aghajani M, Adloo M. 2018. The effect of online cooperative learning on student’s writing skills and attitudes through Telegram application. International Journal of Instruction, July 2018;11(3):433-448.
17. Manna, R.A, Gosh, S. A comparative study between telegram and Whatsapp in respect of library service. Int. J. of Library & Information Science. 2018;7(2): 1-5.